Kabar Cuaca Berau: Suhu Capai 37,8°C, Kemarau Diperkirakan Berlangsung Hingga Akhir September
Selasa (1/9/2026) Tim liputan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Berau melakukan wawancara langsung dengan pihak Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau guna memperoleh informasi terkini mengenai kondisi cuaca dan iklim yang melanda wilayah Berau belakangan ini.
Kepala Stasiun BMKG Berau, Ade Heryadi didampingi Prakira Cuaca BMKG, Ivan Rizki menyampaikan pengamatan terkini bahwa wilayah Berau masih terpantau adanya asap. Dari pemantauan di Bandara Kalimarau, jarak pandang berkisar antara 2 hingga 4,5 kilometer, disertai kabut, asap, serta fenomena udara kabur (haze) akibat partikel-partikel kering halus yang melayang di udara. Kondisi ini teramati dari pagi hingga malam hari.
Suhu udara tercatat mencapai 37,8 derajat Celcius, bahkan sempat menjadi suhu tertinggi di Indonesia. Arah angin beragam dari timur laut hingga barat laut dengan kecepatan 0–11 km/jam. Pihaknya mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap agar selalu menggunakan masker dan terus memantau informasi cuaca terkini.
Sementara Ivan Rizki, Prakira Cuaca BMKG Berau, menjelaskan bahwa kondisi panas dan minim hujan dipengaruhi kuat oleh dinamika atmosfer serta sisa pengaruh El Nino yang masih terasa. Meski demikian, kondisi ini belum masuk kategori kemarau panjang maupun kekeringan ekstrem, karena secara alami Berau beriklim cenderung basah. Kekeringan yang terjadi pun dikatakan tidak seberat tahun 2019 silam.
Suhu tertinggi tercatat menyentuh angka 37,8°C. Potensi hujan ringan hanya sesekali muncul di kawasan pegunungan, sementara wilayah lain belum menerima curah hujan berarti.
Upaya rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah dinilai telah memberi pengaruh positif, di antaranya penurunan jumlah titik panas (hotspot). Namun Ivan menjelaskan, rekayasa cuaca ibarat "pupuk" hanya bisa berfungsi jika tersedia "bibit awan". Karena saat ini belum cukup awan pembawa hujan, maka belum bisa menghasilkan curah hujan yang diharapkan.
Diperkirakan kondisi kemarau masih akan berlangsung hingga akhir September 2026. Curah hujan merata di seluruh wilayah Berau diprediksi baru akan muncul setelah masa itu berlalu.
Pihak BMKG mengingatkan, asap dan kabut yang terjadi sangat berkaitan dengan aktivitas pembakaran hutan dan lahan. "Tidak akan ada asap jika tidak ada yang membakar," tegas Ivan.
Masyarakat diimbau menghindari pembakaran lahan maupun sampah, karena hal itu menambah emisi udara dan memperburuk kualitas udara. Sampah sebaiknya dikubur atau dikelola dengan cara lain. Informasi terkini mengenai jumlah titik panas, prakiraan cuaca, hingga peringatan gelombang terus diperbarui dan dapat dipantau masyarakat melalui akun media sosial resmi BMKG Berau, termasuk di Instagram. (Diskominfo/tim).