Di Tengah Kemarau Panjang, Bupati Hj Sri Juniarsih Apresiasi Petani Labanan Jaya Tetap Berhasil Panen
Di tengah teriknya panas dan kemarau yang berlarut-larut melanda Kabupaten Berau, harum gabah justru masih tercium di Kampung Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur. Pada Kamis (20/8/2026), digelar syukuran panen padi yang menjadi secercah harapan di musim yang penuh tantangan.
Bupati Berau, Hj Sri Juniarsih bersama wakilnya H Gamalis, hadir langsung untuk membagi sukacita sekaligus memberikan dukungan penuh bagi para petani. Di saat sejumlah wilayah pertanian di Berau, seperti Buyung-Buyung, Semurut, Merancang, hingga Melati Jaya, terpaksa gagal panen karena kekeringan, Labanan Jaya tetap berdiri tegak: dari 118,7 hektare lahan yang diusahakan, 75 hektare masih berhasil dipanen, meski sekitar 11,5 hektare tak luput dari dampak kekeringan.
"Alhamdulillah, di tengah panas yang tak kunjung reda, bapak ibu petani di sini tetap mampu memanen hasil jerih payah kalian. Ini sungguh luar biasa!" ujar Bupati Hj Sri Juniarsih dengan penuh haru. Ia langsung menyematkan penghargaan tertinggi bagi warga Labanan Jaya, sebagai pahlawan ketahanan pangan Berau.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, menjelaskan bahwa di balik keberhasilan ini tetap ada tantangan berat. Produktivitas rata-rata mencapai 3,19 ton per hektar, turun jauh dari potensi normal. Musim tanam berikutnya pun diprediksi harus mundur. Pasalnya hujan baru diperkirakan turun paling cepat awal Oktober, sehingga jadwal tanam September kemungkinan ditunda agar tidak sia-sia.
Namun tak ada kata menyerah. Luas lahan sawah di Labanan Jaya kini telah mencapai 336 hektare, di mana 68 hektare di antaranya adalah hasil pembukaan lahan baru berkat kerja sama dengan TNI. Pemerintah terus bergerak maju.
Bupati dalam sambutannya mengatakan, bahwa bertani bukan lagi sekadar tenaga manual. Pemerintah sedang berupaya memperoleh bantuan alat pertanian dari kementerian, yang nantinya akan ditempatkan di Labanan Jaya guna mempermudah dan mempercepat pekerjaan petani.
Melihat banyak petani mulai berusia lanjut dan anak-anak enggan meneruskan, Bupati, Sri Juniarsih mengajak kaum muda beralih pandangan. Kehadiran Fakultas Pertanian STIPER yang akan bergabung ke Universitas Muhammadiyah Berau menjadi peluang besar lahirnya petani terdidik, petani modern.
Saat ini luas sawah di Berau telah mencapai 2.365 hektare. Hasil panen ke depan tak hanya untuk warga sendiri, tetapi juga akan menyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar kebutuhan pangan masyarakat dipenuhi dari tanah sendiri, bukan bergantung dari luar daerah.
Mengatasi krisis air dan cuaca, Bupati Hj Sri Juniarsih menyampaikan, bahwa Pemkab Berau sedang berkoordinasi dengan BNPB serta TNI untuk melaksanakan rekayasa cuaca/hujan buatan. Selain itu, masyarakat diimbau tidak membakar lahan, mengingat kondisi sangat kering dan Berau tercatat sebagai salah satu daerah dengan suhu terpanas serta risiko karhutla tertinggi.
Bupati juga membeberkan, bahwa Pemkab Berau, melalui kerja sama dengan kementerian serta pemanfaatan lahan CSR, puluhan hektar lahan baru terus dibuka untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Bupati juga berpeean, bahwa bertani itu mulia, bertani itu masa depan. "Kita tidak boleh selamanya bergantung pada pasokan dari luar," tegas Bupati Hj Sri Juniarsih. "Tanah kita subur, potensi kita besar. Yang dibutuhkan adalah semangat, pembaruan cara bertani, dan kebersamaan," katanya. Labanan Jaya hari ini membuktikannya, meski panas membakar, harapan tak boleh layu.
Dengan dukungan alat pertanian modern, regenerasi petani muda, serta upaya mendatangkan hujan buatan, Kabupaten Berau bertekad menjadikan sektor pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan pilar kokoh kemandirian masa depan seluruh warga Berau. (Diskominfo/yar)