SANGGAM - SEJUK - ANGGUN - GAIRAH - AMAN - MANUSIAWI

Kesehatan

Pada dasarnya pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka memeratakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan menyediakan fasilitas kesehatan, terutama puskesmas dan puskesmas pembantu karena kedua fasilitas tersebut dapat menjangkau segala lapisan masyarakat hingga ke daerah terpencil.
Pembangunan Kesehatan merupakan pembangunan yang menyeluruh baik secara individu maupun masyarakat baik ditinjau dari segi pelayanan maupun dari segi program pembangunan kesehatan itu sendiri.
Pembangunan    kesehatan   merupakan   hal yang komplek sehingga untuk mencapai tujuan pembangunan itu diperlukan tolok ukur yang mudah untuk dievaluasi, untuk itu tolok ukur atau indikator yang digunakan untuk mengetahui pencapaian pembangunan kesehatan adalah situasi derajat kesehatan penduduk dengan mengukur 3 tolak ukur yaitu : a. Angka Kematian b.Angka Kesakitan, dan c. Status Gizi.

1)       Angka Kematian.

a.       Angka Kematian Bayi (AKB )

Di Kabupaten Berau menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun . Sejak tahun 2005 AKB -> 63,71 perseribu kelahiran hidup, tahun 2006 -> 60,22 , dan tahun 2007 -> 58.02, sementara pada tahun 2009 menjadi 34,67 perseribu kelahiran. Adanya penurunan ini  menggambarkan peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. Selain itu penurunan AKB tersebut antara lain disebabkan oleh peningkatan cakupan Imunisasi bayi, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, penempatan tenaga bidan atau paramedis di desa dan meningkatnya proporsi ibu dengan pendidikan yang tinggi.

b.       Angka Kematian Balita (AKABA).

Pada tahun 2005 angka Kematian Balita di Kabupaten Berau sebesar 2,40 per 1.000 balita, turun menjadi 32,1 per 1.000 balita pada tahun 2006 dan menjadi meningkat  32,84 per 1.000 balita pada tahun 2007, namun pada tahun 2008 terjadi penurunan yakni 30,22 perseribu balita. AKABA menurun menunjukkan semakin membaiknya kondisi situasi kesehatan adalah tidak terlepasnya peranan tenaga kesehatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas, termasuk pemahaman masyarakat teradap pentingnya preventif di bidang kesehatan.

c.       Angka kematian ibu

Angka kematian ibu atau Maternal Mortality Rate ( MMR ) sangat erat hubungannya dengan tingkat kesadaran prilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu serta tingkat pelayanan kesehatan ibu terutama pada saat ibu hamil , bersalin dan masa nifas. Apabila dilihat dari 4 tahun terakhir angka kematian ibu menunjukkan angka yang menurun , pada tahun 2005 berjumlah 215,45 per seratus ribu , tahun 2006 berjumlah 199,61 perseratusribu menjadi 197,53 perseratusribu tahun 2007, dan pada tahun 2008 angka kematian ibu naik menjadi 243,77 perseratus ribu. Hal ini disebabkan beberapa penyebab kematian seperti perdarahan, infeksi, eklamsi yang membutuhkan pertolongan cepat dari petugas kesehatan, terjadinya peningkatan ini menandakan terjadi error entah masalah kualitas pelayanan atau kuantitas pelayanan maupun managemen.

2)       Kesakitan

Kesakitan pada tahun 2008 adalah merupakan penyakit yang hampir sama dengan tahun sebelumnya. Dimana penyakit dengan infeksi saluran pernapasan bagian atas masih dominan di Kabupaten Berau. Disusul dengan penyakit infeksi pada usus dan penyakit kulit jaringan bawah kulit yang merupakan pola penyakit dengan kondisi lingkungan tidak sehat serta pola ekonomi rendah.

a.       Pola Penyakit Utama

Penyakit yang dominan di Kabupaten Berau adalah penyakit saluran pernapasan bagian atas , penyakit kulit dan jaringan bawah kulit, infeksi pada usus hampir selalu menempati urutan 10 besar penyakit yang tercakup di Puskesmas.

b.       Penyakit Saluran Pernapasan Bagian Atas

Tingginya angka yang tergolong Penyakit Saluran Pernapasan Baigna Atas oleh karena dalam golongan penyakit ini ada banyak jenis diagnose penyakit yang sebenarnya jika dirinci satu-satu maka akan menurun secara kunatitas. Misalnya yang tergolong dalam kategori ini Pharingitis, Tonlisitis, Tonsilopharingitis, dan terkadang juga Batuk dan Flu.k

c.       Penyakit TB Paru

Pravelasi penyakit Tuberculosis (TB) Paru belum diketahui secara pasti. Data terakhir yang tersedia adalah jumlah kasus BTA (Basil Tahan Asam) yang diobati dan angka kesembuhannya. Di Kabupaten Berau penemuan penderita TB paru sejak tahun 2005 yakni 134 kasus dengan kesembuhan 86 orang ( 6^,18 %), tahun 2006 yakni 143 kasus, 123 di antaranya positif dan yang sembuh 97 kasus (78, 86 %), sedangkan tahun 2007 yakni 1.178 , yang positif diantaranya 121 dan yang sembuh 111 kasus (91,74 %) dari penderita positif.

Banyaknya penderita tersebut diperkirakan bahwa semakin tingginya peran serta masyarakat dan aktifnya petugas mencari penderita sedangkan kondisi lingkungan perumahan, sosial ekonomi masyarakat serta kecenderungan peningkatan penderita untuk berprilaku sehat semakin membaik.

d.       Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Kejadian AFP pada saat ini diproyeksikan sebagai indicator untuk menilai keberhasilan program eradiksi Polio (Erapo). Program ini dilaksanakan melalui Pekan Imunisasi Polio (PIN) dan merupakan wujud dari kesepakatan internasional dalam pembasmian penyakit polio dilndonesia. Di Kabupaten Berau dilaporkan tidak ditemukan kasus AFP.

e.       HIV / AIDS dan Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual (PMS)

Penyakit HIV/AIDS ini merupakan penyakit yang relatif baru dan muncul sebagai pendemi yang beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat mengkhawatirkan.

Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebar sentra-sentra pembangunan, meningkatnya prilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, simultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS. Jumlah penderita HTWAIDS dapat digambarkan sebagai fonemena gunung es, yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil dari jumlah penderita yang sebenarnya. Di Kabupaten Berau tahun 2005 ditemukan 1 kasus (prevalensi %), tahun 2006 tidak ditemukan, sedangkan pada tahun 2008 ditemukan 2 kasus ( prevalensi % ).

f.         Penyakit Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue telah menyebar dibeberapa tempat Kecamatan di Kabupaten Berau . Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi, hal ini sejalan dengan meningkatnya kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk. Angka DBD sangat berfluktuasi dengan siklus puncak 4-5 tahunan. Selama 4 tahun terakhir ini angka kesakitan DBD beflukturasi. Incidence Rate tahun 2005 yakni 97,17 per 100.000 penduduk ,tahun 2006 62,97 per 100.000 penduduk ,tahun 2007 turun 26,81 per 100.000 penduduk .

g.       Penyakit Menular Lainnya

Beberapa penyakit menular lain yang perlu diwaspadai adalah penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yakni Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri, Pertusis dan Hepatitis.

h.       Tetanus Neonatorum

Melalui program Eliminasi Tetanus Neonatorum, dengan kegiatan surveilans yang intensif di Rumah Sakit dan Puskesmas, diperoleh gambaran jumlah kasus dan kematian akibat tetanus neonatorum selam 3 tahun terakhir 2005 - 2007 tidak ditemukan kasus tetanus neonatorum dan pada tahun 2008 terdapat 1 kasus.

i.         Campak

Di Kabupaten Berau sendiri dari hasil pelacakan terhadap KLB Campak selama 3 (tiga) tahun terakhir tidak ditemukan kasus KLB campak. Gambaran jumlah kasus campak pada tahun 2006 tidak ada kasus dan pada tahun 2008 terdapat 47 kasus ( IR.0,03 %)

j.         Pneumonia.

Penyakit yang satu ini sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena penyakit ini merupakan penyakit akut dan kualitas penatalaksanaannya belum memadai. Kasus pneumonia pada balita tahun 2005 — 57 kasus dan tahun 2006 — 51 kasus. Dan tahun 2007 — 124 kasus hal ini disebabkan karena.

k.       Penyakit Diare

Penyakit diare merupakan penyakit endemis yang sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan kasus dan kematian yang tinggi.

Di Kabupaten Berau berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2006 —1.788 penderita, tahun 2007.— 1.843 dan pada tahun 2008 —1.970 penderita . Penyakit diare merupakan penyakit harus diwaspadai artinya bahwa penanganan yang tepat di Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain seperti Puskesmas dan lain-lain sangat penting peranannya dalam mencegah kematian akibat diare.

l.         Penyakit Kusta

Dalam kurun waktu yang terus berjalan berdasarkan informasi bahwa penyakit Kusta merupakan penyakit yang harus terus diwaspadai. Karena merupakan penyakit yang banyak menyerang penduduk / masyarakat dengan pola hidup dengan ekonomi rendah dan pengetahuan kurang.

Tahun 2006 ditemukan kasus 8 kasus, prevalensi/10.000 penduduk, tahun penemuan kasus 11 kasus. Prevalensi /10.000 penduduk serta tahun penemuan kasus  10 kasus , prevalensi/ 10.000 penduduk. ( Kh.pahami PBdanMB tab 12)

m.     Penyakit Rabies

Penyakit yang ditularkan melalui gigitan anjing ini sangat berbahaya sekali. Hal ini diduga karena besarnya populasi anjing liar dan lemahnya pengawasan serta koordinasi. Hasil dari jumlah kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Berau selama ini belum ditemukan.

3)       Status Gizi

Status gizi yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat saat ini adalah diukur melalui indikator-indikator status gizi bayi yang diukur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan individu, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi, juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan, bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang masih menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil dan menyusui.

a.      Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Hasil yang diperoleh melalui data indikator kesehatan yang berasal dari pelayanan kesehatan, BBLR pada Kabupaten Berau masih rendah yakni berkisar antara 3,45 % tahun 2006, dan 3,32 % tahun 2007, kemudian tahun 2008 —3,32 % . Angka tersebut belum mencerminkan kondisi yang ada dimasyarakat, karena belum semua bayi yang dilahirkan khususnya yang ditolong oleh dukun atau tenaga non kesehatan lainnya dapat dipantau berat badan lahirnya.

b.      Gizi Balita

Fokus dalam meningkatkan gizi pada balita adalah dengan pengukuran melalui berat badan menurut umur ( BB / U ) dan berta badan menurut tinggi badan ( BB / TB ). Hasil analisis anthropometri dari pengukuran berat badan balita menurut umur pada tahun 2006 di Kabupaten Berau dengan status gizi buruk adalah 0,02 %, tahun 2007 yakni 0,06 % (12 orang) tahun 2008 menjadi 0.77 % (78 orang)

c.       Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Cakupan distribusi garam beryodium di masyarakat tahun 2006 ( 13,08 %), tahun 2007 ( 43,93 %) dan untuk tahun 2008 tidak dilakukan



Galeri

Info Terkini

Bahasa

Video

Kalender

Kamis, 23 Februari 2012
Pukul

Hit Counter

Total Visitor 69 visitors
Online User 1 user
Actived 1 Year, 1 Month, 3 Days

Polling

Test Polling 2