Detail Berita

Udaranya Segar, Terdapat Bengkirai Usia 100 Tahun

Dibuat pada 6 December, 2017, terakhir di modifikasi 6 December, 2017

Udaranya Segar, Terdapat Bengkirai Usia 100 Tahun
Udaranya Segar, Terdapat Bengkirai Usia 100 Tahun

PROKAL.COHutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), begitu masyarakat menyebutnya. HLSL yang berada di Kecamatan Kelay, ini diapit oleh empat kampung yakni, Kampung Muara Lesan, Lesan Dayak, Sidobangen, dan Merapun.

=======

TAK dipungkiri untuk menuju objek wisata alam HLSL, memang membutuhkan waktu yang cukup lama, para wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan lokal harus menempuh perjalanan 4 jam dari Kota Tanjung Redeb menuju Kampung Lesan Dayak. Sesampainya di sana, wisatawan harus kembali menempuh perjalanan menggunakan perahu kecil (ketinting) dengan menyusuri Sungai Kelay dan Sungai Lesan selama 45 menit.

Rasa lelah selama perjalanan panjang menuju HLSL akan pudar tatkala wisatawan mulai menyusuri hutan. Di mana, hutan lindung yang  luasnya mencapai 11.238 hektar ini memiliki ratusan jenis flora dan fauna yang cukup langka. Salah seorang pengurus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Operasi Wallacea Terpadu (OWT), Samuel menjelaskan, kawasan HLSL selain menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna, juga menjadi lokasi konservasi habitat orangutan. Di sini juga terdapat jenis burung Bangau Strom yang jumlahnya di dunia hanya tersisa 1.000 ekor.

“Selain menjadi kawasan hutan lindung, di sini juga menjadi objek wisata alam yang sangat bagus dan menantang. Selain itu, juga sebagai rumah bagi berbagai jenis pohon yang dilindungi, ada Ulin, Meranti, Bengkirai, bahkan ada Bengkirai yang usianya sudah lebih 100 tahun,” ujar pria berkulit sawo matang ini.

Keberadaan HLSL memang saat ini masih sangat awam bagi wisatawan lokal, namun ternyata HLSL ini sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan asing, seperti halnya Nicky van Meer, wisatawan asal Belanda ini mengaku sengaja datang ke Indonesia hanya untuk menikmati keindahan hutan tropis di Kalimantan terutama di wilayah HLSL.

“Saya sudah datang ke berbagai negara, tapi Kalimantan merupakan pulau yang memiliki hutan yang sangat baik, di sini banyak sekali pohon yang memang tidak saya temukan di negara manapun selain di Indonesia. Saya berjalan kaki kurang lebih 9 jam menyusuri hutan ini, selama itu saya menemukan berbagai macam hal baru. Saya berfikir mungkin tahun depan akan saya agendakan untuk kembali ke sini lagi,” tuturnya.

Bukan hanya Nicky, petualangan yang ada di HLSL ini juga menarik perhatian Ruud van Ropi, pria asal belanda berusia hampir 60 tahun ini mengaku mengetahui keberadaan HLSL dari internet. Setelah melihat kondisi HLSL dan sejumlah flora dan fauna yang ada, Ruud memutusan mengunjungi Indonesia terkhusus HLSL.

“Saya ke sini bersama istri saya, saat baru pertama kali datang ke sini yang saya rasakan adalah ketenangan dan kesegaran udaranya,” jelas dia.

Saat ini, keberadaan HLSL di bawah pengawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat di bawah binaan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim. Dalam sejarahnya, keberadaan HLSL sudah beberapa kali mengalami perubahan status dan pengelolaan, namun kini statusnya sebagai hutan lindung tetap dipertahankan, mengingat fungsi ekologisnya sebagai penyangga air dan keanekaragaman hayati.(hms5/asa)