Detail Berita

Lindungi Hutan Mangrove Berau

Dibuat pada 11 October, 2017, terakhir di modifikasi 11 October, 2017

Lindungi Hutan Mangrove Berau
Lindungi Hutan Mangrove Berau

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB - Kabupaten Berau memiliki kawasan hutan mangrove yang cukup luas, kurang lebih 85.389 hektare yang tersebar di sepanjang pesisir selatan dan pesisir utara Bumi Batiwakkal. Keberadaan mangrove ini harus dilestarikan untuk menjaga keragaman ekosistem pesisir.

Mangrove diciptakan untuk kelestarian lingkungan hidup, sehingga jangan sampai rusak. Hal itu diungkapkan Bupati Berau, Muharram, saat membuka workshop membangun skema pengelolaan mangrove lestari berbasis masyarakat di Kabupaten Berau, yang digelar di Meeting Room Hotel Palmy Ekslusive Tanjung Redeb, Selasa (10/10) kemarin.

Dalam upaya melestarikan kawasan hutan mangrove, Pemerintah Kabupaten Berau didukung KPH Berau Barat bersama sejumlah lembaga pemerhati lingkungan hidup, seperti TFCA, Kehati, TNC, MCAI dan GIZ. Workshop yang digelar selama tiga hari tersebut menghadirkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta masyarakat peduli lingkungan hidup di Kabupaten Berau.

Lebih lanjut Bupati Muharram dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya keberadaan Mangrove yang tumbuh di lahan berpasir dan lumpur sebagai pengendali abrasi. Sehingga ketika mangrove mengalami kerusakan maka lingkungan sekitarnya akan rusak dan mengancam kehidupan masyarakat sekitarnya. Sehingga skema dalam pengelolaan mangrove lestari ini menurutnya sangat penting untuk merumuskan kebijakan dalam pengelolaan mangrove bersama-sama masyarakat.

Skema awal yang harus dilakukan dalam pengelolaan mangrove, menurut Muharram, adalah mengamankan dengan melindungi jangan sampai di eksploitasi secara berlebihan. Selain itu juga perlu mengedukasi masyarakat akan pentingnya keberadaan mangrove. Pasalnya, terjadi kerusakan pada mangrove itu karena adanya aktivitas masyarakat. Sehingga dengan edukasi yang diberikan ada kepedulian bersama untuk menjaga mangrove.

“Perlu ada regulasi dalam mengatur perlindungan mangrove ini,” tegasnya.

Selain memberikan mengedukasi pentingnya keberadaan mangrove, menurut Muharram perlu ada ruang kepada masyarakat agar mereka bisa hidup sejahtera tanpa harus mengganggu atau merusak mangrove. Dengan mengedukasi dan memberdayakan ekonomi masyarakat lokal, maka mangrove akan tetap lestari. Muharram berharap para lembaga yang mendukung perlindungan dengan berbagai program dalam menjalankan amanah dengan sebaik baiknya bersama masyarakat.

Salah satu yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan mangrove berbasis masyarakat dikatakan Muharram, adalah dengan menjadikan mangrove sumber ekonomi masyarakat, yaitu mengembangkan pariwisata. Kawasan mangrove menjadi destinasi wisata yang kini telah banyak dikembangkan di beberapa daerah yang turut membantu masyarakat setempat.

“Skema ini yang kita harapkan dapat dilakukan dengan beberapa program pengembangan lain guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak ekosistem mangrove,” tandasnya.