Detail Berita

Dikontrak Dekranasda, Akui Motif Penyu Lebih Susah

Dibuat pada 12 September, 2017, terakhir di modifikasi 12 September, 2017

PENGRAJIN
PENGRAJIN
Mariati saat menenun kain pesanan salah satu pelanggannya dari Segah, Minggu (10/9).

PROKAL.COBakat sekaligus turunan. Kedua hal itulah yang dimiliki Mariati. Pengrajin tenun khas Berau berdarah Toraja. 

EKA RUSDIANA, Tanjung Redeb

“TEK, tek... dug, dug,” seperti itulah bunyi alat tenun Ria –sapaan akrab Mariati – ketika tangannya yang lincah menggeser kayu kecil dengan berbagai warna benang yang akan dikombinasikan menjadi sebuah kain tenun.

Ria yang ketika ditemui di kediamannya di bilangan Tanjung Redeb, tengah asyik mengerjakan satu set kain tenun berwarna hijau, pesanan seorang guru dari Kecamatan Segah. “Pesannya dua set, satunya sudah jadi,” ujarnya sambil menunjuk kain tenun berwarna yang telah selesai dibuat di sudut ruangan tempatnya sedang menenun, Minggu (10/9) sore.

Menenun tentu bukan hal baru baginya. Di tanah kelahirannya, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, lelaki sekalipun hampir bisa akrab dengan aktivitas menenun. Ria sendiri bahkan sudah mahir membuat kain tenun ketika usianya masih 13 tahun. Sejak bisa menenun, maka sejak itu juga ia langsung menekuninya hingga saat ini. Meskipun harga kain tenun ketika itu masih belum sebaik seperti sekarang yang mencapai jutaan rupiah. “Sempat saya stop (menenun), soalnya saya lanjutkan sekolah perawat di Palu,” ungkap ibu dua anak ini.

Kurang lebih lima tahun ia berhenti. Tetapi kemampuannya dalam menenun sama sekali tidak berkurang. Seolah menenun sudah jadi bagian dari jiwanya. Sampai pada tahun 2000, ketika pertama kali dirinya menginjakkan kaki di Berau sebagai seorang perawat di Kecamatan Kelay, Ria datang dengan perlengkapan menenunnya.

“Selama ini saya bikin motif khas Toraja. Tapi baru-baru ini saya belajar buat motif penyu. Berau punya,” tambah wanita kelahiran 1978 silam ini. “Tenun Sobi namanya,” sambungnya.

Memang, belum lama ini ia ditunjuk Ketua Dekranasda Berau Sri Juniarsih Muharram, untuk membuat kain tenun bermotif penyu yang menjadi khas Berau. Kain tenun hasil tangannya pun dijadikan pajangan pada stan Dekranasda di acara Pekan Raya Berau. Ria yang sehari-harinya bertugas sebagai pegawai di Dinas Kesehatan Berau ini mengaku, membuat motif penyu tidak semudah ketika dirinya membuat motif khas Toraja.

“Kalau motif kita (Toraja) itu lebih mudah. Main kira-kira aja, pasti kelihatan sudah motifnya. Motif Berau ini yang sulit, soalnya harus dihitung. Pernah juga untuk motif di lengan, saya mau buat penyunya melintang, tapi enggak bisa. Susah,” ujarnya.

Jika dibandingkan dari segi lama pembuatan, untuk membuat motif Berau (penyu) bisa menghabiskan waktu hingga seminggu. Jadi, untuk satu setnya bisa sampai satu bulan pengerjaan. Berbeda ketika membuat tenun motif khas Toraja yang lebih sederhana. Ria mengaku bisa menyelesaikannya dalam waktu paling lama 4 jam. Sementara untuk kebutuhan benang, dikatakannya bahwa warna dasarnya satu set kain tenun menghabiskan sekitar 8 rol benang ukuran besar. Untuk semua motif. Ditambah dengan benang lain yang lebih variatif warnanya.

“Tapi disesuaikan juga, kalau orang yang pesan badannya besar seperti saya. Besar juga kainnya, benangnya juga lebih banyak butuhnya. Kalau kecil rata-rata 8 rol,” tutupnya. (udi)