Detail Berita

Sayang, Tak Semua Destinasi Sempat Dikunjungi

Dibuat pada 17 May, 2017, terakhir di modifikasi 17 May, 2017

Sayang, Tak Semua Destinasi Sempat Dikunjungi
Sayang, Tak Semua Destinasi Sempat Dikunjungi

PROKAL.CO, Panas terik, menjadi salah satu kendala dalam mengunjungi semua destinasi yang ada dalam kawasan ekowisata Rammang-Rammang. Sebab, ada sebagian lokasi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.  Dan, di tempat itulah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.

MENGUNJUNGI Rammang-Rammang, idealnya harus menyiapkan waktu sehari penuh.  Bagi yang datang dari Bandara Hasannuddin, mungkin tak terlalu bermasalah, karena jarak yang dekat.  Namun, bila berangkat dari Makassar, mesti harus bersiap mengahadpi macetnya lalu lintas selepas keluar dari pintu tol.

Jadi, memang harus berangkat lebih awal, ketika lalu lintas belum padat, dan juga di saat udara masih cukup bersahabat. Demikian juga dengan pilihan dermaga, apakah harus melalui dermaga 1 ataupun dermaga 2.  Yang membedakan hanya lokasi, sementara pelayanan serta destinasi yang dilalui, sama.  Sama-sama dilayani dengan operator perahu yang ramah dan memahmi seluk beluk lokasi wisata tersebut.

Rammang-Rammang yang dipersamakan dengan salah satu objek wisata yang ada di Tiongkok, memang maju dengan pesat.  Bahkan menurut para operator perahu, barulah dalam 4 tahun terakhir ini, mendapat kunjungan wisata yang luar biasa. Data pengunjung juga tercatat dengan baik.  Ketika berangkat dari dermaga, sudah dilakukan pendataan, juga ketikan akan mengunjungi lokasi gunung karst, juga dilakukan pencatatan, dengan bayaran hanya Rp3.000.

Memang menjadi menarik, sebab lokasi wisata tersebut, tak jauh dari pabrik Semen Bosowa.  Juga berdekatan dengan objek wisata air terjun Bantimurung. Sehari penuh berwisata, bisa mengunjungi Bantimurung, setelah menghabiskan waktu di Rammang-Rammang, atau bisa juga sebaliknya. Bagi fotografer, tentu ada saat yang menarik untuk mengabadikan pemandangan di alam terbuka itu.

Di Berau, ada beberapa lokasi yang sedikit mirip dengan Rammang-Rammang, khususnya keberadaan gunung Karst.  Yang berbeda, bahwa Rammang-Rammang awalnya adalah hanya jalan setapak bagi warga untuk bertransportasi dari kampung ke kampung, di Berau ada sungai Besar Kelay.

Mengembangkan dengan pola ekowisata yang ada, bisa dilakukan di sepanjang sungai Berau, maupun sungai yang mengarah ke kampung Merancang.  Disepanjang sungai ini, dipagari hutan Mangrove yang dihuni Bekantan.  Ini letak perbedaannya.  Tapi, bila dikelola dengan baik, wisata sungai di Berau juha akan bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk datang berkunjung.

Bisa saja, wisatawan sebelum kembali ke daerah mereka, selepas berwisata di Maratua dan Derawan, bia meluangkan waktu untuk mengunjungi dan menysuri sepanjang sungai maupun gunung Karst yang ada di Merabu. Atau, bia telah dikelola dengan baik, wisatawan juga bisa menyaksikan bagaimana kehidupan Orang Utan di Kampung Merasa.

Disbudpar bersama-sama stakeholder yang ada, memang perlu mengolah objek wisata yang ada di pedalaman dengan potensi Gunung Karst yang bisa menjadi refleksi, kehidupan masa lalu.  Rammang-Rammang telah memberikan inspirasi, bagaimana mengolah objek wisata dengan baik, yang awalnya hanya sebuah lokasi yang sederhana, kini menjadi lokasi wisata yang lengkap dan mendapat ,kunjungan wisatawan dalam jumlah ribuan setiap tahunnya.

Beberapa kampung mulai merintisnya dengan mengolah hutan mangrove menjadi hutan wisata. Di wilayah pesisir pantai dengan kekuatan Labuan Cermin, di Derawan dan Maratua menjadi magnet wisatawan yang menyukasi keindahan bahwa laut, kini giliran kawasan gunung Karst, akan menyusul.  Rammang-Rammang hanya butuh waktu 4 tahun, di Merabu diyakini tentu bisa lebih singkat lagi.(hms/app)