Detail Berita

Ingin Menginap, Ada Lokasi di Balik Hutan Nipah

Dibuat pada 17 May, 2017, terakhir di modifikasi 17 May, 2017

Ingin Menginap, Ada Lokasi di Balik Hutan Nipah
Ingin Menginap, Ada Lokasi di Balik Hutan Nipah

PROKAL.CO, Bicara soal pengunjung, jumlahnya sudah tak terbilang. Di hari libur, semakin banyak, baik melalui dermaga 1 maupun dermaga 2. Promosi yang dilakukan, memberikan kontribusi, datangnya para wisatawan.

AWAL bulan Mei, menurut Irul, motoris yang membawa menyusuri sungai, suasana di kawasan Rammang-Rammang sangatlah ramai. Beberapa petugas keamanan, berdiri di sekitar dermaga. Tak ada tanda-tanda khusus, baik berupa baliho ataupun peringatan akan rencana kunjungan pejabat ataupun tamu istimewa.       

Di hari istimewa itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama keluarga dan kerabat, mengunjungi lokasi ini. Tentu, ini saat yang istimewa bagi pemilik perahu yang siap memberikan layanan.  Hampir seluruh perahu mendapat jatah untuk mengangkut tamu. Semua berjalan seperti biasa.

Perahu yang ditumpakangi JK juga beriringan dengan tamu lainnya, dan tak ada yang berada di depan untuk melakukan pengawalan.  Semua berjalan seperti hari-hari biasa.  Kehadiran JK dilokasi ini, tentu semakin memperkuat posisi ekowisata Rammang-Rammang, sebagai salah satu lokasi yang wajib dikunjungi ketika berada di Sulawesi Selatan.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana malam. Sambil menunggu hadirnya awan pagi hari, pengunjung bisa memilih untuk menginap.  Ada lokasi menginap yang menyediakan beberapa kamar yang didesain unik.  Juga ada ruang besar, sebagai restoran. Lokasinya, berada di sekitar hutan Nipah. Banyak wisatawan, khususnya dari kalangan fotografi, yang menunggu pemandangan di pagi hari.

Dalam perjalanan menyusuri sungai, tidak hanya melihat pemandangan alam berupa bukit karst yang menjulang.  Tetapi, ada tawaran menyaksikan beberapa lokasi yang diyakini warga memiliki nilai sejarah. Seperti Telaga Bidadari.  Pengunjung bisa saja meminta untuk mampir sejenak, untuk melihat bagaima rupa telaga bidadari itu. Oleh Dinas Pariwisata Maros, juga sudah ditetapkan sebagai “Situs Karama” Telaga Bidadari.

Sungai kecil mengalirkan air yang tidak jernih, namun tidak mengeluarkan aroma yang tidak sedap.  Airnya keruh memang, inilah kondisi air yang berada di kawasan hutan Mangrove dan Hutan Nipah tersebut.

Yang menarik, bahwa persoalan tarif sudah ditentukan oleh pengelola dalam hal ini Pokdarwis. Jadi tidak ada persaingan di antara pemilik perahu yang jumlahnya sekitar seratus unit lebih. Begitupun kapasitas menjelaskan objek wisata.  Semua operator perahu, juga merangkap sebagai pemandu wisata. Dan, dengan logat yang khas, menjelaskan objek wisata yang ada di sepanjang perjalanan sungai.  Dengan senang hati menawarkan untuk mampir di kedai, menawarkan untuk memanfaat pemandangan untuk sekadar berfoto. Ini tentu yang menjadi salah satu daya tarik. Dan, siapapun yang terlibat, ataupun masyarakat yang ada di kampung, juga sangat paham.

Paham bahwa persoalan kebersihan, paham bahwa pengunjung butuh makanan ringan, sehingga mereka menyiapkan warung kecil dengan gazebo untuk sekadar beristirahat, udara terik, harus disiasati dengan menggunakan penutup kepala.  Sambil berjalan di pematang sawah, menuju gua yang menyajikan peninggalan prasejarah, berupa tapak tangan.  Sama seperti yang ada di gua atau gunung Karts di kampung Merabu.

Terkait dengan tanggung jawab sosial (CSR), kawasan Rammang-Rammang, juga sudah ditangani oleh Bank Indonesia. Kewajiban sosial, menjadi wilayah tugas Bank Indonesia untuk turun tangan mengelolanya.

Mengunjungi Rammang-Rammang, memang mengajarkan banyak hal.  Mengajarkan soal menjaga lingkungan.  Mengajarkan bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan dengan sangat sederhana. Mengajarkan, bagaimana keuletan semua stakeholder hanya dalam waktu singkat, Rammang-Rammang begitu dikenal kalangan luas, hingga mancanegara.(hms/bersambung/app)