Detail Berita

Walau baru beberapa pekan, Ahmad Ismail sudah cukup akrab dengan seluruh jajarannya di Satpol PP.

Dibuat pada 11 January, 2017, terakhir di modifikasi 11 January, 2017

SEPERTI KELUARGA SENDIRI
SEPERTI KELUARGA SENDIRI
Walau baru beberapa pekan, Ahmad Ismail sudah cukup akrab dengan seluruh jajarannya di Satpol PP.

PROKAL.COMengubah paradigma masyarakat terhadap personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta menjadikan Kabupaten Berau sebagai daerah yang aman, tertib dan bersih, jadi target Ahmad Ismail yang kini menakhodai Satpol PP.

SAMSUDDINTanjung Redeb

 

PELAKSANAAN mutasi jabatan yang dilakukan pada 23 Desember 2016 menjadi hari spesial bagi Ahmad Ismail. Di hari yang sama, pria kelahiran Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini tepat berusia 55 Tahun.

Di hari yang istimewa itu, pria yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan sejak 28 Januari 2015 itu diberikan amanah untuk menempati posisi baru, yakni memimpin Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Berau.

Pria yang sempat menjabat sebagai Kapala Bagian Organisasi sejak September 2009 hingga Januari 2012 lalu, juga pernah menjadi Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan pada Januari 2012 hingga Januari 2015, mengaku amanah yang diberikan kepadanya saat ini cukup berat.

Namun dirinya tetap yakin, mampu untuk menjalankan amanah tersebut. “Ini tugas yang cukup berat bagi saya, karena ini merupakan satuan terdepan dalam penegakan peraturan daerah (Perda),” ungkap Ismail ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/1).

Sebenarnya diakui Ismail, rencana pergeseran dirinya dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan menjadi Kepala Satpol PP sudah tercium sejak tiga bulan sebelum dilaksanakannya pelantikan.

Hal itu karena, saat pelantikan pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), dirinya yang sebelumnya Ketua Bidang Organisasi dan Kelembagaan secara tiba-tiba ditunjuk menjadi Ketua Bidang Penegakan Disiplin dan Penghayatan Terhadap Kesadaran Bernegara.

Saat pelantikan pengurus Korpri itulah, dirinya sudah sempat bergurau dengan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau Jonie Marhansyah terkait perubahan tersebut. “Waktu itu saya becandain Pak Sekkab, saya bilang jangan-jangan saya dipindah menjadi komandan Sapol PP. Di situ Pak Jonie langsung menyebut oh betul itu. Dan kenyataannya sekarang beneran,” ujarnya.

Target awal yang ingin dicapainya, adalah mengubah paradigma masyarakat terhadap Satpol PP, menjadi lebih baik. Contohnya, saat melakukan penertiban tanpa adanya unsur arogan.

“Selama ini kan Satpol PP dikenal arogan, itu yang ingin saya ubah. Dalam menjalankan tugas nanti saya minta seluruh personel untuk mengedepankan pola humanis dengan senyum, sapa dan salam. Ini kan bukan perang, yang dihadapi orang-orang kita juga,” ujarnya.

Sementara, dalam satu tahun awal masa kerjanya, Ismail memiliki beberapa target. Yakni benar-benar membersihkan praktik prostitusi terselubung, membersihkan reklame atau spanduk liar, hingga penegakan Perda miras yang sinkron dengan pengembangan pariwisata di Bumi Batiwakkal -sebutan Kabupaten Berau.

Khusus penegakan perda miras dengan pengembangan pariwisata, diakuinya harus disinkronkan lebih dulu. Sebab sebagai daerah wisata yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara, tetap harus memberikan kenyamanan bagi mereka yang mungkin sudah sangat terbiasa mengonsumsi miras.

“Apakah memang boleh dijual bebas atau ada ketentuan, karena di perda kita kan larangan, bukan pengaturan. Kalau dilarang, berarti tidak boleh sama sekali, sedangkan kebutuhan wisatawan asing itu kan salah satunya minuman beralkohol. Itu yang harus disinkronkan dulu,” bebernya.

“Kalau prostitusi terselubung itu yang ingin saya bersihkan, apalagi itu memang sudah instruksi gubernur. Kalau spanduk liar, lebih pada membantu peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Bila sudah ditertibkan, nanti kita akan minta mereka (pemasang spanduk, red,) untuk mengurus izin kalau memang mau pasang lagi,” pungkas Ismail. (bersambung/udi)