Detail Berita

Bangun PLTT di Talisayan, Pemkab Tunggu Keseriusan Investor

Dibuat pada 11 January, 2017, terakhir di modifikasi 11 January, 2017

Agus Tantomo
Agus Tantomo
Agus Tantomo

PROKAL.COTANJUNG REDEB – Pemkab Berau sangat serius ingin mengatasi persoalan kelistrikan di Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau. Salah satunya, dengan merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Torium (PLTT) di Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan.

Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, menyebut persoalan listrik memang jadi fokus pihaknya untuk segera diatasi. Bahkan beberapa opsi pembangunan pembangkit sudah dijajaki. Mulai dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) berkapasitas 1.000 megawatt (MW) di Kecamatan Kelay, hingga menggandeng Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) dengan mendatangkan direkturnya, Tri Mumpuni, untuk menggali potensi-potensi energi di seluruh perkampungan Berau.

“Kalau masalah listrik, banyak investor yang tertarik,” katanya saat ditemui di kediaman dinasnya, Selasa (10/1).

Malah, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Berau 2016-2031 yang baru disahkan, juga mengakomodasi rencana pembangunan PLTT berkapasitas 500 MW tersebut di wilayah Kecamatan Talisayan. Agus menyebut, yang terpenting dalam upaya kerja sama kelistrikan dengan investor adalah, melihat keseriusannya untuk secepatnya membangun pembangkit di Bumi Batiwakkal.

Pembangunan PLTT menurutnya sangat menjanjikan. Sebab, setelah beberapa kali mengikuti pertemuan soal torium di Jakarta, Agus mendapat informasi jika pembangunan PLTT hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. “Yang jadi pertanyaannya, kapan dibangunnya? Kalau dibangunnya 10 tahun lagi, berarti 11,5 tahun,” ujarnya.

Apakah sudah ada investor yang menyatakan ketertarikannya bekerja sama membangun PLTT di Talisayan? Walau tidak menyebut identitasnya, Agus memastikan sudah ada satu investor yang telah melakukan penjajakan untuk bekerja sama.

Menurutnya, penjualan listrik dari energi torium yang jauh lebih murah, sangat menguntungkan bagi masyarakat dan daerah. Informasi yang didapatnya, investor yang tertarik membangun PLTT di Berau, siap menjual listrik ke masyarakat hanya sekitar enam sen per Kwh. Penjualan dengan harga yang cukup jauh di bawah tarif dasar listrik (TDL) tersebut, juga didukung dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan Pasal 10 ayat (2) dan Pasal 11 ayat (1) UU Nomor 30/2009 tentang Ketenagalistrikan. Dengan putusan itu, MK membatalkan usaha privatisasi listrik yang dijalankan pemerintah.

“Jadi tidak ada lagi monopoli listrik oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara). Jadi yang penting ada unsur pemerintahnya, apakah perusahaan daerah, atau swasta yang kerja sama dengan pemda (pemerintah daerah), itu sudah bisa jual listrik ke masyarakat. Ini yang bikin torium sangat menarik, jadi penjualan listrik ke masyarakat bisa lebih murah,” jelasnya.

Walau pemerintah pusat masih menjadikan torium sebagai alternatif terakhir untuk pemenuhan energi di Nusantara. “Artinya kan tidak dilarang. Yang kita inginkan sebenarnya, selain yang murah dijual ke masyarakat, mana yang cepat terealisasi. Itu yang penting. Makanya keseriusan investor juga kita lihat,” terangnya.

Terkait kesiapan lahan, Agus juga memberikan jaminan. Bahkan dari 30 hektare lahan yang dibutuhkan, ada 100 hektare lahan yang siap dan cocok untuk pembangunan PLTT. Lokasinya jauh dari permukiman masyarakat dan berada di kawasan pantai Kecamatan Talisayan.

“Saya belum cek statusnya, apakah punya pemerintah atau masyarakat. Tapi kalau investor serius, kita segera bebaskan lahannya,” lanjutnya.

Keberadaan lokasi di pinggir pantai, juga akan memudahkan distribusi torium yang akan didatangkan dari daerah lain. Sebab, Berau memang tidak memiliki potensi torium, sehingga membutuhkan suplai bahan baku utama PLTT tersebut. “Distribusinya lewat laut. Kan 7 ton (torium) bisa untuk 1.000 MW selama setahun. Kalau 7 ton itu kapal kecil aja muat. Jadi sekali angkut 7 ton, bisa untuk 2 tahun cadangan bahan bakunya,” ungkapnya.

Jika investor yang ingin membangun PLTT di Berau serius, Agus mengharapkan secepatnya menggelar sosialisasi ke masyarakat. “Nuklir kan ada beberapa macam, ada uranium, torium dan yang lain. Jadi saran saya, segera sosialisasi ke masyarakat, karena masyarakat melihat ini nuklir, padahal ini kan green nuklir,” sarannya.

Dengan PLTT, konsep yang diinginkan Agus bukan pada berapa besar kebutuhan listrik masyarakat yang ingin dipenuhi, tetapi dengan menyediakan listrik guna memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menarik investor masuk ke Bumi Batiwakkal. “Jadi kita sediakan listrik untuk menarik investasi masuk,” pungkasnya. (udi)