Detail Berita

Integrasikan dengan Kelapa Sawit, PPL Jadi “Dukun Sapi”

Dibuat pada 11 January, 2017, terakhir di modifikasi 11 January, 2017

POTENSI BESAR
POTENSI BESAR
Mulyadi sedang memberi makan sapi yang digembala di kebun plasma miliknya.

PROKAL.CO, Mengurus hewan ternak tidak sekadar diberi makan lalu dibiarkan begitu saja. Butuh ketelatenan dan perhatian agar sapi atau kambing yang diternak tidak mati.

 

RIO TAUFIQ ADAM, Segah

 

Langkah Warjinem terburu-buru menuju pintu depan rumahnya. Kedatangan tamu, membuatnya tak sempat berbenah. Ia yang sedang mempersiapkan sang anak untuk pergi belajar mengaji di masjid, bergegas menemui tamu di teras rumahnya.

Pekan lalu, tepatnya Senin (2/1) Berau Post mencoba melihat proses pengembangbiakan dan penggemukan hewan ternak di Kecamatan Segah. Menurut laporan warga, Warjinem adalah seorang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Kampung Harapan Jaya, Kecamatan Segah, dari Dinas Pertanian dan Peternakan Berau.

Dikarenakan libur bekerja, Warjinem pun terlihat santai, meskipun ia sejak 2006 telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia lalu mempersilakan masuk dan menanyakan maksud kedatangan Berau Post saat itu. “Kalau di Harapan Jaya kami melakukan pengembangbiakan. Tapi beberapa kampung ada juga yang melakukan penggemukan,” ujarnya membuka percakapan.

Di siang yang terik itu, Warjinem menerangkan berbagai program yang telah dikerjakan dan pengalamannya sebagai PPL di Kampung Harapan Jaya. Dari data yang didapat, saat ini Harapan Jaya mengelola 212 ekor sapi yang dibagi dalam tujuh gabungan kelompok petani. Dari 212 ekor sapi tersebut, 156 ekor sapi betina dan 18 ekor sapi jantan merupakan indukan. “Sapi-sapi itu ada yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ada juga yang dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi dan kabupaten. Semua dimulai sejak 2009 lalu,” kata Warjinem menerangkan hikayat program budidaya hewan ternak di kampungnya.

Menjadi PPL, suka dan duka pun telah dirasakan Warjinem. Mulai dari ikut membantu proses persalinan sapi, hingga ikut menyuntikkan vaksin. “Saya ini sudah kaya ‘dukun’ sapi,” selorohnya.

Di Kecamatan Segah bukannya tidak ada dokter hewan. Bahkan di sana ada pusat kesehatan khusus untuk hewan ternak. Namun, karena luasan wilayah dan minimnya tenaga yang tersedia, membuat Warjinem harus ikut turun tangan menyembuhkan sapi-sapi yang sakit. Tidak jarang bahkan, ada sapi yang akhirnya gagal berkembangbiak dan berujung pada kematian.

Kegagalan proses pengembangbiakan akunya, disebabkan oleh malasnya peternak mengurus hewan ternaknya. Sehingga hanya dibiarkan begitu saja. Padahal, program ini tidak akan berjalan tanpa ada keseriusan dari peternak. Akibatnya sapi atau kambing yang diternakkan pun mengalami stres. Kalau sudah stres, maka hewan ternak tidak akan bisa gemuk dan hidup sehat.

Belum lagi risiko hewan ternak mengidap penyakit Septicaemia Epizootica (SE) yang kerap terjadi tiap tahun. “Setiap tahun harus divaksin, biar tak kena penyakit SE. Memang perlu penangan ekstra untuk memelihara hewan ternak,” terangnya.

Permasalahan lain muncul dari ketersediaan pakan untuk sapi dan kambing. Tidak adanya pakan konsentrat sebagai menu tambahan membuat para peternak terpaksa hanya memberikan rumput gajah dan ilalang sebagai makanan utama. Upaya untuk memberikan pakan sebenarnya telah dilakukan dengan menanam rumput gajah seluas dua hektare (ha). Lahannya menggunakan milik peternak. Tapi, itu saja tidak cukup. Belum lagi pengawasan agar rumput tidak dicuri orang lain. Sementara untung pun belum didapat. Jika ada pemasukan, hanya untuk menutupi biaya tenaga dan operasional selama bertahun-tahun.

Berbicara soal pundi-pundi rupiah, Mulyadi yang merupakan suami dari Warjinem dan juga ketua kelompok peternak mengatakan, ia sudah pernah mendapatkan uang dari hasil pengembangbiakan sapi. Meskipun ia tidak merincikan berapa banyak ekor sapi yang sudah dijual dan uang yang didapatkan. “Dijualnya ke orang di kampung sini (Harapan Jaya, red) juga. Hasil itu harus dibagi juga untuk mengembalikan modal. Tapi yang dijual hanya jantan saja, sementara betina harus digulirkan kembali untuk dikembangbiakkan,” ungkapnya.

Pria asal Tulungagung, Jawa Timur ini menjelaskan, ia hanya dimodali empat ekor sapi induk, satu jantan dan tiga betina. Hasilnya dalam lima tahun terakhir, sapi-sapinya telah melahirkan lima ekor anak sapi.

Program budidaya hewan ternak yang dilakukan di Kecamatan Segah, sejatinya bisa menjadi program andalan yang moncer jika diseriusi. Terlebih Bupati Berau Muharram sebenarnya berupaya untuk melakukan swasembada daging. Namun, belum terlihat serius, dikarenakan berbagai problematika yang dihadapi para peternak. Mulai dari fasilitas yang diberikan hingga aturan mengenai pembagian untung kedua belah pihak.

Karena tidak sedikit kebutuhan daging di Bumi Batiwakkal dipasok dari luar daerah, seperti Pulau Sulawesi dan Jawa. Terutama pada musim Iduladha, di mana banyak sapi dan kambing berdatangan dari kedua wilayah tersebut.

Berbeda dengan Kampung Harapan Jaya yang sudah memulai sejak 7 tahun lalu, Kampung Pandan Sari baru memulai program kembang biak dan penggemukan hewan ternak satu tahun terakhir ini. Program tersebut tepatnya dimulai September 2015.

M Jabir, salah seorang peternak di Kampung Pandan Sari, Kecamatan Segah menuturkan terdapat tiga kelompok peternak di tempatnya. Dengan program pengembangbiakan sekaligus penggemukan.

Perbedaan program pengembangbiakan dan penggemukan ialah, jika kembang biak induk tidak boleh dijual. Dan apabila induk melahirkan anak betina, maka tidak boleh dijual atau disembelih untuk dikonsumsi. Sedangkan penggemukan, ia hanya mendapat bibit sapi. Dan apabila sudah besar dan layak untuk dijual sebagai konsumsi masyarakat, untungnya harus ditukarkan kembali dengan modal bibit Rp 7 juta per ekornya.

Bahkan terdapat 300 ekor sapi yang diternak di kampung tersebut. Sayangnya banyaknya sapi di sana, tidak didukung dengan areal peternakan yang memadai. Sempitnya lahan kandang membuat peternak akhirnya membiarkan sapi-sapinya begitu saja di tanah lapang. Bahkan beberapa ekor sapi terlihat ditempatkan di lapangan sepak bola.

Menurut Jabir, seharusnya sapi-sapi tersebut diternakkan di areal perkebunan kelapa sawit. Namun, karena perkebunan kelapa sawit miliki kelompok peternak tersebut masih belum berkembang, pihaknya tidak berani mengintegrasikannya. “Makanya nama kelompok kami Integrasi Sawit Mandiri. Dengan harapan, program perkebunan kelapa sawit dan peternakan ini dapat berjalan beriringan,” paparnya.

Solusi mengintegrasikan perkebunan kelapa sawit sebagai wilayah beternak sapi memiliki banyak keuntungan. Selain lahan yang luas sehingga sapi tidak mudah stres, kotorannya pun bisa menjadi pupuk alami bagi tumbuhan kelapa sawit. “Tapi untuk menggembalakan sapi sebanyak itu membutuhkan lahan paling tidak 100 hektare,” kata Jabir.

Sembari menutup perbincangan, Jabir pun menunjukkan kandang sapi yang berada di belakang rumahnya. Sapi-sapi itu juga diberi makan rumput gajah dan daun sawit yang telah digiling dahulu. Mesin pemecah itu didapatkan kelompoknya melalui bantuan dari APBD Provinsi Kaltim tahun lalu.

Di kandang yang sangat dekat dengan tepi hulu Sungai Segah itu, terdapat beberapa ekor sapi sedang asyik menyantap menu makannya sore hari itu. Satu ekor sapi yang masih kecil, menjadi bukti program pengembangbiakan hewan ternak di Kecamatan Segah sudah cukup berhasil. Namun, perlu banyak pembenahan agar swasembada daging yang diimpikan bupati dapat terwujud. (*/udi)