Detail Berita

Ladang Beramal, Bangun Komunikasi Lintas Sektor

Dibuat pada 9 January, 2017, terakhir di modifikasi 9 January, 2017

BUTUH DUKUNGAN:
BUTUH DUKUNGAN:
Ilyas Natsir di salah satu sudut ruang kerjanya yang memajang gambar konsep pembangunan wilayah perkampungan.
TUGAS berat menanti Ilyas Natsir. Dalam kurun waktu yang singkat, ia harus menghadapi berbagai polemik masyarakat Berau yang majemuk.
Pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini sadar, waktu satu tahun tidak akan cukup untuk berkeliling kampung-kampung di Bumi Batiwakkal, bertemu dengan tiap kepala kampung, lalu menyelesaikan masalah yang ada di tiap kampung. Kendati demikian, ia tak mau menyerah. Karena tugas kini sudah dibebankan kepadanya. Sebagai abdi negara, mau atau tidak, tugas harus tetap dilaksanakan, dan tuntas.
Ditunjuk sebagai Kepala DPMK Berau oleh Bupati Muharram, mengharuskan Ilyas Natsir memahami setiap seluk-beluk permasalahan di tiap kampung. “Tiap kampung memiliki masalah masing-masing. Potensi yang berbeda juga. Untuk itu, penangan masalah di perkampungan tidak bisa disamaratakan. Penanganan tiap kampung berbeda juga,” katanya kepada Berau Post, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/1).
Ditemui seusai kerja bakti membersihkan lingkungan kantor, eks Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (DPTP) Berau selama 5 tahun ini, memiliki bekal mengetahui potensi pertanian di perkampungan. “Tapi itu kan terbatas. Saya selama ini hanya fokus di beberapa wilayah. Sekarang harus menyeluruh,” ujarnya.
Namun, Ilyas tetap memiliki keunggulan. Pemilik gelar Magister Agribisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, setidaknya telah mengetahui potensi beberapa kampung yang memiliki potensi pertanian padi maupun jagung. Bedanya, kini fokus pengembangan program tidak sekadar di bidang agriculture. Tetapi lebih kepada masyarakat sebagai objek utama.
Nah, menurutnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perkampungan, Ilyas berpendapat harus dimulai dari pengembangan perekonomian. Terlebih pengembangan ekonomi di perkampungan merupakan fokus utama pemerintahan Muharram dan Agus Tantomo yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021. Dengan konsep membangun dari pinggiran, Muharram dan Agus Tantomo memimpikan masyarakat di perkampungan memiliki peluang yang sama dengan masyarakat di perkotaan. 
“Menggalakkan perekonomian di perkampungan paling penting. Misalnya, tiap kampung memiliki Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) sendiri. Unit usahanya bisa beragam. Paling mudah adalah membuat toko atau swalayan yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat di kampung dahulu,” terangnya. “Agar perekonomian di tiap kampung terus berputar. Dan pemerintah kampung melalui BUMK, bisa mendapat untung dengan memberdayakan masyarakatnya,” imbuhnya.
Namun, pengelolaannya ujar Ilyas tetap harus profesional. ”Jangan hanya sekadar mendapat gaji lalu malas-malasan,” tegasnya.
Keberadaan swalayan tersebut, ucap pria yang lahir tahun 1965 silam, sebelum dimasuki minimarket dengan label ternama seperti Indomaret dan sejenisnya, kini telah merambah di wilayah-wilayah pelosok. Menurutnya, salah satu jasa dengan penghasilan yang stabil berasal dari perdagangan.
Pentingnya BUMK tidak hanya membantu arus roda ekonomi. Tapi juga meningkatkan nilai tawar produk yang dihasilkan masyarakat. Sehingga, masyarakat tidak merasa dipermainkan dengan pemilik modal.
Membicarakan ekonomi saja tidak cukup. Sama seperti kepala SKPD lainnya, Ilyas juga menekankan pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Terkait hal ini, ia telah berkomunikasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Berau yang memiliki program satu keluarga satu sarjana. “Program ini menarik. Saya mencoba untuk bisa disinkronkan dengan program DPMK nantinya. Agar tingkat pendidikan masyarakat di perkampungan bisa meningkat. Dengan begitu pola pikirnya juga akan ikut berubah,” ucapnya.
Pendampingan yang dilakukan oleh non government organization (NGO) di beberapa kampung saat ini, tetap harus dijalankan. Hanya saja, ia berharap agar NGO yang telah sukses di satu kampung tidak berhenti di satu tempat saja. Perlu sekiranya untuk juga membagi ilmunya di kampung lainnya. 
“Setidaknya satu hingga dua tahun, sampai benar-benar bisa mandiri. Terutama mengurusi masalah administrasi dan menyusun program yang tepat sasaran. Sehingga pendampingan dan pengawasan ini sangat penting dilakukan,” tuturnya. 
Ilyas juga tak ingin ada aparat kampung berurusan dengan hukum karena salah menggunakan alokasi dana kampung (ADK). “Saya tidak mengikuti dan tidak mengetahui secara persis. Tapi jangan sampai terjadi lagi (aparat kampung diduga korupsi ADK). Ini pentingnya pengelolaan administrasi yang rapi dan sesuai aturan,” akunya.
Untuk itu, perlu menjadikan masyarakat di kampung menjadi jujur. Menurutnya, orang pintar saat ini sudah banyak. Namun, orang yang jujur dan mampu menjalankan amanah dan kepercayaan sangat sulit ditemukan.
Komunikasi yang lancar juga penting dilakukan. Keberadaannya di DPMK mengharuskannya untuk berkomunikasi lintas sektor. Cara membangun kepercayaan, dimulai dari duduk satu meja dengan menjelaskan keinginan masing-masing pihak dan mengoordinasikannya. “Harus banyak belajar dan bertanya jika tidak tahu. Ini tidak hanya berlaku bagi pemerintah kampung, tapi juga untuk saya,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Ilyas mengaku masih memiliki pekerjaan rumah di bidang pertanian, terutama urusan ketahanan pangan bagi masyarakat Berau. Ilyas berharap agar Suparno Kasim yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dapat menyelesaikannya. Ia pun dengan senang hati akan ikut membantu dengan program-program di DPMK. “Berada di DPMK ini adalah ladang amal. Banyak sekali yang bisa dilakukan. Terutama untuk menyejahterakan masyarakat di perkampungan. Saya berharap agar mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena saya tidak akan bisa bekerja sendiri,” tutup Ilyas. (bersambung/udi)